Usah mencariku..

July 30, 2009

Sudahlah..aku telah jalani hidupku sendiri..

Menikmati semuanya penuh bahagia..penuh senyuman..

Apa yang pernah terjadi biarkanlah terkenang di jala malam..

Bukankah kini telah ada dia di hidupmu?

Seperti yang pernah ku katakan..bahagialah dengan cintamu..

Bukan ku ingin hilang begitu saja dari hidupmu..

Lihatlah dia, kekasihmu yang begitu tulus mencintaimu..

Yang dulu selalu kau agungkan dengan sajak-sajak dogmamu..

Yang selalu kau banggakan selepas kau dariku..

Aku mungkin pernah menjadi bagian hidupmu..

Aku mungkin pernah menjadi kekasihmu dulu..

Tapi aku juga ingin bahagia dengan hidupku di sini..

Aku nikmati semua kesendirianku dengan hati yang lapang..

Aku tak bersedih..tak juga menangis karenanya..

Tak perlu kau ungkit lagi cerita kita..tak perlu kau ingatkan lagi tentang kita..

Aku ingin kita bahagia dengan apa yang ada sekarang..

Usah mencariku karena sesalmu..

Nikmati ceritamu dengannya di sana..aku yakin dia terbaik untukmu..

Mengertilah dengan keadaan ini..

Aku hanya ingin jalani sisa waktuku dengan bahagia..dengan senyuman..

Itu saja..

Kau (tak) kan tahu..

July 30, 2009

Kekasih jiwaku,

Kemarin kekasihmu datang kepadaku..

Menegurku dengan lembut hingga hatiku meredup terkubur pilu..

Dia katakan betapa bahagianya kau setelah dia ada dihidupmu..

Dia teriakkan keangkuhan betapa dia telah membahagiakanmu..

Memiliki semua cinta di hatimu, menjadikannya raja untuk jiwamu..

Dan aku hanya bisa tersenyum melihatnya..

Tahukah dia apa yang pernah terjadi hingga menghakimi semua jejakku?

Tertawa seakan dia telah menangkan pertempuran yang maha dahsyat?

Aku bertanya kepadanya, kepada lelaki yang mengaku malaikat penyelamatmu..

Apakah dia tahu sebenar cinta yang kau beri untuknya?

Apakah dia mengerti kenapa kau menerimanya dihatimu?

Apakah dia tahu siapa orang yang kau harap menemanimu sepanjang hidupmu?

Dan dia menjawab..

“Aku tahu..akulah orang itu..akulah mempelai itu..bukan kau..”

Dan aku tersenyum..

Kau tak tahu teman, tapi kau akan tahu saatnya nanti..

Mencintai adalah ketulusan hati bukan keterpaksaan..

Mungkin dia benar, aku pernah bersalah kepadamu kekasih jiwaku..

Dan sesungguhnya kau pun tahu apa yang sebenarnya telah terjadi..

Hingga aku harus pergi meninggalkanmu dalam peluknya..

Sungguh kau kan mengerti..dan ku tahu kau telah mengerti kekasih jiwaku..

Sekarang, aku hanya ingin jalani hidupku dengan tenang..

Dengan senyuman dan harapan yang selalu hadir di tiap waktuku menutup dan membuka mataku..

Aku tak kan menjadikan hadirku sebagai ancaman untuk dia yang mencintaimu..

Karena kau dan aku tahu, kita berdua ingin bahagia..

Aku kan bahagi untukmu..

Dan kau kan bahagia untukku..

Dan kita kan bahgiakan orang-orang yang ingin kita bahagia..

Hiduplah bersamanya, jalani kisahmu dengannya..

Cintailah dia melebihi cintamu kepadaku..

Kekasih jiwaku, katakan kepadanya..

Yakinlah pada cinta yang telah kalian tumbuhkan..

Selamanya..

Malam ini aku berjalan pasti..
Langkahku tegap seperti kuda-kuda jantan padang siberia..
Dibahuku terikat erat seribu harapan yang bergejolak keras..
Dimataku terlihat khatulistiwa cinta yang luas..
Dihatiku ada kata yang terangkai indah hanya untukmu..
Malam ini aku kan menemuimu, Luna..
Setangkai mawar dan sebentuk hati kan ku berikan untukmu..
Jalanan kota terasa lapang, sepenggal cerita siap ku tuliskan..
Dan langit malam semakin sempurna karena kilaunya bulan..
Sungguh aku tak bisa menahannya..tuk secepatnya bertemu denganmu..
Lidahku tak sabar mengatakan “Aku mencintaimu, Luna..”..
Taman telah terlewati dan mataku tak bisa berpaling..
Seindah wajah yang ku kenal..yang memabukkanku..
Semanis senyum yang tak bisa terlupakan dari jiwaku..
Kau ada di taman..menatap rembulan dan keindahan temaram kota..
Begitu sempurna..khayalku terbang meninggalkan aku dalam langkah gontaiku..
Kau begitu indah..perempuan yang selalu ku dambakan..
Ada di sana..berpeluk dengannya..melambaikan tanganmu selentik ilalang musim semi..
Menghampiriku..dan meraih tanganku..mengejutkanku..
Menampar keras hatiku dengan sebuah kata “Kekasihku..”..
Dan aku tahu..kata itu bukan untukku..tapi dia yang memelukmu erat..
Setangkai mawar yang ku bawa untukmu terjatuh..seperti jiwaku..
Tapi..sebentuk hati ini tak kan pernah berubah..
Selalu ada ruang untukmu..selalu ada cinta yang menunggumu..
Kapanpun itu..
Hati ini untukmu, Luna..

Pohon Pinus Tua..

July 30, 2009

Lamunanku membawaku susuri tepian jalan..

Diantara hijau dedaunan dan rimbunnya pohon pinus..

Di sepanjang jalan ini..pernah kita lewati bersama..

Kesejukkan nuansa dan indahnya khayalan..kita berdua..

Riuhnya kota terlihat jelas dari tempat ini..

Tempat dimana kau selalu pergi tuk lepaskan penatmu..

Di ujung sana, masih berdiri kokoh pondok bambu..

Tempat kita berteduh di antara hujan yang menggelitik..

Sepertinya baru kemarin kita disini..

Lihatlah, masih ada guratan nama kita di pohon tua itu..

Saat itu, kau terlihat begitu bahagia..matamu berbinar..

Tak henti-hentinya menggenggam tanganku..dan memelukku manja..

Kabut yang tipis semakin sempurnakan kecantikan wajahmu..

Aku pun begitu bahagia..

Kini, hanya aku yang ada di sini..

Langkah ini entah kan ku bawa kemana..

Yang aku tahu..

Kau ada di kota yang lain..bersamanya..

Dan aku masih di sini..percayakan hatiku pada takdir..

Langit kembali mendung..dan aku guratkan namaku..

Diantara nama kita di pohon pinus tua itu..

Kelak, jika kau merindukanku..dan kau sempat kembali disini..

kau kan tahu..aku pun merindukanmu..

Di seberang sana, hujan mulai turun..aku harus pergi..

Gelang hitam bertuliskan namamu, masih ku pakai..

dan kini, aku tinggalkan di pohon pinus tua itu..

Tergantung di antara cinta kita dulu..

Ada seribu doa dan harapan..

Semoga kau menemukannya..

Entah kapan..

Adakah nyata?

July 30, 2009

Sadarkah kau sering membuatku bertanya?

Akan perasaan yang tersembunyi darimu..

Terkadang aku merasakannya begitu nyata untukku..

Dan aku takut itu tak lagi nyata..aku takut terjaga..

Kata yang kau ucap mungkin biasa saja..

Tapi tidak untukku..kata itu lantunkan harapan dan anganku..

Terbangkan asaku dan sirami dahaga hatiku..

Kenapa kau begitu indah?

Mungkinkah kau pun merasakan yang sama dariku?

Mungkinkah rasa itu nyata?

kau membuatku bertanya..adakah nyata?

Tak sadarkah kau akan apa yang kau beri itu?

Tak cukupkah kau membuatku menunggu?

Bila benar itu nyata..

Kau benar-benar membuatku terus bertanya..

Dan bertanya..

Adakah kau nyata?

Atau perasaanku yang menjadikanmu nyata?

Kaulah jawabannya..

Aku abadi..

July 30, 2009

Sekarang aku tersenyum bila mengenangnya..

Aku benar-benar bahagia karena ternyata aku benar!

Melihat tangisan dan penyesalan..

Rohku terbebas dari belenggu..jasadku kini menyatu..

Mereka pikir bisa membunuhku..bisa mencampakkanku..

Hanya dengan menghancurkan hati..dan impianku!

Mereka seakan lupa..kematianku adalah kebahagiaan..

Dengan matiku mereka berpesta..mereguk tuak dan canda..

Dengan melihat jasadku mereka bersenandung lantang..

Hingga mereka melupakan jika aku terlalu indah tuk dilupakan..

Bukankah sekarang kerinduan dan sesal itu begitu dalam?

Dan lihatlah apa yang kalian banggakan! Dia bukan apa-apa!

Cinta itu tak sekuat dan sehebat yang kalian banggakan..

Hanya aku yang bisa..

Dan kerinduan akanku selalu menghantui..ceritaku abadi..

Tapi kalianlah yang membunuhku..mencabik jasadku dengan kemunafikan!

Kenanglah lelaki ini! Senandungkan namaku dalam tidurmu..

Tulis tentangku dalam lembaran hidupmu..

Akan cinta dan kesetiaan..akan janji dan kemunafikan..

Namaku abadi..

Selamat pagi..cinta!

July 30, 2009

Pagi ini aku melihatnya mencuri pandangku..

Sesekali senyum sipu yang manis terlihat manja dibibirnya..

Aku memanggilnya Bulan..seperti liontin yang ia pakai..

Entahlah, terkadang perasaan ini tak menentu..

Ada kekaguman yang begitu kuat di dadaku..memukul setiaku..

Kecantikan paras, keanggunan sikap dan mata yang bercahaya..

Sesuatu yang telah lama menghilang dari ceritaku..

Sesekali ia memanggilku lembut hanya tuk menyapa kabarku..

Atau mengingatkan bahwa hari akan hujan..

Nuansa yang begitu menyejukkan semua zat yang menyusun jasadku..

Haruskah rasa ini ku biarkan hadir untuknya?

Haruskah setia yang tak tentu ini ku bunuh saja?

Bulan..dia gadis yang rupawan..dialah impian..

Ah, biarkanlah semua mengalir saja..seperti biasanya..

Pagi ini..esok..atau lusa yang akan datang..

Aku kan selalu tersenyum kepadanya..seperti sapanya kepadaku..

Mungkin saja cerita ini kan berubah..kan berbeda..

Biarlah malaikat yang menuntunnya..

Bukan nafsu dan egoku..

Yang pasti..aku mengagumimu..perempuanku..

Andai kau tau..akupun sering mencuri pandangku..

Melihatmu tiap waktuku..

Selamat pagi..cinta..

I Believe..

July 30, 2009

Temanku berkata :

Dia hanya masa lalu..seperti lainnya..

kan tetap ada..tak bisa kau hapus..

tapi biarkanlah dia tetap seperti itu..sebagai bayang..

biarkan dia datang..sebagai kenangan..

bukan ancaman..bukan sakit yang tertahan..

dan dia kan menghilang..dengan lembut..dengan belaian sayang..

Kepahitan..sakit..kecewa..adalah kewajaran..

sikap kita setelah semua itu..adalah kedewasaan yang nyata..

bisakah kita bangun? bisakah kita berjalan tegak?

biarkanlah dia datang..biarkanlah ia terkenang..

karena itu adalah perjalanan..

yang pernah kita lewati sebelum mati nanti..

Aku mengerti :

Aku percaya..aku kan bahagia..meski harus melepasnya..

aku kan tersenyum..saat dia datang..

aku kan menatapnya dengan lembut..

aku kan menyapanya dengan kata yang santun..

aku telah siap dengan semua itu..temanku..

Temanku berkata :

Aku tahu..karena kau memang layak bahagia..

Aku percaya itu..

Aku berkata :

Aku pun percaya itu..

Mawar yang terkembang..

July 30, 2009

Teruntuk bunga mawar yang terkembang

Yang menatap jauh pucuk – pucuk kehidupan

Dimana kau letakkan wangimu yang menawan?

Apakah aku, ataukah mereka yang kau inginkan?

Teruntuk kekasih yang bersembunyi di balik keagunan

Pada siapakah kan kau berikan, bunga mawar yang kau pegang?

Pada lebah, ataukah aku yang bertaruh dengan harapan?

Teruntuk sahabat, yang tak lagi dekat

Sahabat, pada malam yang gelap aku kan bertanya

Pada siapakah nanti hidupku kan terkait?

Sahabat, pada malam yang gelap kau pun berkata

Pada sebuah harapan yang terikat erat di nafasmu!

Bunga mawar, kekasih, dan kau sahabatku

Ada sebuah cerita yang ingin ku uraikan teruntukmu

Tentang cinta dan kehidupan, serta pengorbanan yang diberikan

Tertuju untukmu kekasihku, cerita tentang cinta yang kau puja

Aku, adalah bintang yang dulu kau pandang

Yang terlihat indah saat malammu datang

Mereka dan semua yang menatapku tak mengerti, dan yakinlah

Aku tak seindah yang kalian bayangkan tentang aku

Hanya sinar yang terang yang kau pandang, saat redupku

Tak satu pun yang memandang dengan air mata, kemana aku menghilang?

Tertuju untukmu bunga mawarku, cerita tentang kehidupan yang kau jalani

Aku, mengalir tak memandang batas, dan juga kewajaran

Aku merasuk pada siapa pun yang berhak,

Di manakah ku letakkan sayapku yang patah ?

Di ujung ranting cemara ataukah pada dahan takdir yang rapuh ?

Tidak, aku tak ingin sayapku ada di keduanya

Tidak pula sayapku hinggap di pucuk – pucuk rasa

Saat malam bulanku berkata :

Air mata tak berkata, hanya pedihkan jiwa yang ternoda “

Dan aku tahu, mawarku tak pernah mekar untukku

Tertuju untukmu sahabatku, cerita tentang manusia yang berhak

Dapatkan cinta dari puing-puing getar rasa

Yang mengalun lembut dan hinggap di atap harapan,

Tersenyumlah sahabat, ia kan terlahir untukmu suatu nanti

Meski kini, kau menari sendiri dalam sunyi.

Kematian terkadang lebih indah bila disejajarkan kehidupan

Tak terbatas pada kepatuhan dan keterikatan jiwa

Kekosongan hanya sebatas raga, tak terbuka mata

Kematian menyeret kita pada jalannya yang bertapak

Yang meluruhkan rasa sakit, pedih, dan kehinaan dunia

Kehidupan yang bersandar pada nafas lebih berharga dari kata

Karena nafas lahir dari jiwa yang suci bukan dari rahim nafsu

Bukankah kematian awal dari kehidupan juga?

Kita berputar ikuti roda alam yang terkadang kita tersesat

Tak memandang baik pun buruk yang hadir bagi kita

Bukankah kehidupan mengunci kita pada ketidakpastian?

Hanya jiwa – jiwa yang buta diperbudak oleh itu

Tak jauh berbeda dari keledai yang memangku tuannya

Jika hidup itu terurut dar lahir kemudian mati

Mengapa takut membekap suara – suara hati?

Jiwa yang haus, menangis dan berteriak ingin bebas

Mungkin menyadari keabadian bukanlah sebuah keraguan

Puing yang runtuh dari keputus asaan hanya menjadi prasasti

Yang mencoba ingatkan mereka hidup tak terus berlanjut

Sesudah perenungan itu, masihkah kita munafik?

Setiap jiwa berhak memilih apa yang terlihat olehnya

Mengapa takut masih saja membekap suara-suara hati?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.