Dua

May 31, 2009

waiting

Pagi.

Hubungan yang tidak dimengerti. Dimana segala berawal dari hitungan. Baik hitungan bintang, atau hitungan tentang berapa wanita yang menyukai sorban kemudian difilmkan menjadi wanita berkalung ceban. Bisakah kita bertemu lagi? Mengawali setiap degup dengan lebih lembut, memilin tiap desah tanpa kalut, dan menghitung pasir yang berhasil kucuri dari penyu-penyu itu untukmu. Selalu dalam layar kotak dengan sinarnya yang memuakkan. Apakah ia tahu berapa kali ku sakit mata hanya untuk mengetahui kabarnya? Huh..hubungan yang tidak dimengerti.

Bagaimana wajahnya sekarang? Masih tirus dengan banyak carut dan dirambati janggut, atau sudah licin seperti porselein ibuku yang hampir tiap saat tak berhenti dipulas. Bagaimana rasanya genggaman itu? Hangat, erat, terlalu kencang, atau lekang, atau..hmm genggam saja. Ingatkan aku akan rasanya.

Nanti ya tanggal satu.”

Kenapa harus tanggal satu? Kenapa tidak sekarang saja? Toh bedanya hanya 20 hari. Tidak akan banyak yang berubah

Pasti ada yang berubah. Aku harus mampu mengangkat diriku dulu sebelum kembali merengkuhmu. Paling tidak sebuah rumah mungil, dan sebuah tiket walau hanya untuk menyaksikan bintang yang sama.”

Tapi aku terlalu rindu. Sangat rindu. Aku tidak butuh tempat itu, rumah itu, dan tiket itu. Aku mau berjalan bersisian denganmu walau hanya sebatas di pinggir kota dan menunggu malam menelanjangi kita. Aku mau terduduk di trotoar jalan raya tanpa suara dan hanya berdiam, membiarkan mata kita yang bercerita. Aku mau kamu.”

“Bisakah kamu bersabar sayang, aku tidak akan tega mengajakmu berpanasan lagi di pinggir jalan tanpa tahu mana tempat yang bisa kita tuju. Paling tidak, ditengah buntu aku tahu tempat yang tepat untuk melepas rindu, membiarkan kepalaku rebah di pangkuanmu dan menatap lagi mata itu.”

Jenuh dengan semua janji yang ditawarkan. Aku bosan mengatakan bahwa aku hanya butuh dia. Bukan semua hal yang dibicarakannya.  Pulanglah, sapa aku dalam nyatamu. Perdengarkan lagi nyanyian hati, aku rindu. Bukan lagi tentang hitungan, ini tentang kamu, aku, kita.

One Response to “Dua”

  1. blacx Says:

    dan apa yang terjadi ketika ia pulang?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.