surat tak terkirim
June 1, 2009

“memang kamu tidak pernah menginginkan aku bahagia“
“loh, kenapa begitu? memangnya apa yang kulakukan? aku hanya menulis. saat ini aku sedang belajar menulis banyak hal. aku sedang belajar untuk membuat cerpen, dan yang paling mudah adalah menuliskan sesuatu yang aku rasakan. apakah itu salah?” jawabku.
“memang…”
“bukan begitu Abdi, aku tidak seperti itu. mungkin katakan lah aku tidak selalu mampu bersembunyi dibalik tawa, tapi aku menyayangi kamu..mana mungkin aku tidak membiarkan kamu bahagia, walaupun bukan dengan hadirku disampingmu. tapi aku ingin kamu bahagia. Dengan sedikit nyeri, tapi aku sangat ingin. ..apa itu yang ada di kepalamu selama ini?apa aku tidak pernah membahagiakanmu?” celotehku tanpa peduli ia mengetahui atau tidak.
“memang kamu tidak pernah..“
dadaku ditusuk belati seketika. ” Apapun aku mau lakukan untuk bahagiamu. hujan-hujanan kala terik walaupun aku tahu itu akan membuat ibuku memukulku, bercinta di setiap tempat yang dapat membiarkan kita berdua menepi walaupun aku tahu Tuhan mengintipku bahkan ke liang semut, berpura-pura tidak menangis dalam hancurku ketika dengan bangga kamu perlihatkan hak atas kekuasaan, dan nama yang dengan indah kupugar namun harus berakhir dengan nestapa. dan kamu bilang aku tidak pernah membuatmu bahagia? bahkan di tiap doaku hanya ada permintaan bagaimana aku melupakan sebuah tamparan. agar aku dapat melangkah maju, tak lagi mengingat kejadian pilu di dalam sebuah mobil tua itu.”
“memang kamu tidak pernah menginginkan aku“.
“No! kamu salah sayang, aku selalu menginginkan kamu. ditiap nafasku, tiap detak dan detik hidup, di tiap loncatan emosi. tapi aku belum bisa melupakan kisah itu. terlalu sakit untukku, terlalu sakit. tidakkah kamu mengerti? itu kenapa aku tidak ingin kamu disini, perutku masih berguncang hebat, pipiku masih panas, sangat!! dan kini, ketika kusiap untuk kembali..perempuan itu disana, di sampingmu.”
“memang kamu tidak pernah menginginkan aku bahagia….” hanya itu ucapannya di selembar kertas yang ia tuliskan sebelum meninggalkan aku. aku berusaha mencari makna lain dari potongan kata-katanya, tapi itu membuat artinya semakin sempurna. surat itu menyampaikan banyak kisah. Dan hatiku, tidak mampu berteriak lebih keras dari angin yang mengiringi langkahnya untuk memberi tahu apa yang kurasa. suara jiwaku melantun dengan deras di dalam kubangan yang tertutup semen dan bergaung di seluruh dunia, namun di bawah tanah. dan ia tetap tidak mendengar.