arggghhhhhh…

July 29, 2009

Ajari aku mengerti apa arti dari tiap butiran airmatamu ya Tuhan, karena kini ku buta.
Ditepikan waktu
dihantui kenangan

Ajari aku mengerti apa arti senyumanmu Ya Tuhan,
hilangkan sesak yang mendogmaku dengan logika
Ajari aku mengerti inginmu ya Tuhan,
caci manusia yang meretas dosa dengan simbahan doa
Ajari aku pahami hadirku Ya Tuhan,
Bukan untuknya yang bahagia namun ku luka
Bukan untuknya yang tersenyum namun mencela
Bukan untuknya yang mencoba mengerti namun tetap tak mampu pahami
Semata untukku, untuk hidupku agar mengenalmu..

H.A.R.I

July 16, 2009

Hari ini 09.00 WIB
Aku adalah bola seperti yang kerap mereka perbincangkan. Bola yang tak mengenal statis, tak tahu sudut, dan tak mengerti perih. Tugasku hanya bernyanyi, loncat kesana kemari, sunggingkan tawa, dan binar mata. Dan mereka akan senang.

Hari ini 12.00 WIB

Aku adalah belati. Menyayat apapun yang mengganggu peri-periku. Kesadaran tentang keberadaan, membuat mereka begitu berarti. Peri yang kerap menangisi lukaku sedangkan aku tertawa lebar. Peri yang menatapku dengan cemas ketika aku berlarian seakan indah mengelilingi dunia. “Aku tak takut mati!” ujarku lantang kepada mereka. Dan mereka hanya akan tersenyum, menatapku mengerti. Merentangkan tangan, kemudian melepasku. “Paling tidak kamu tahu kemana kamu dapat pulang. kami disini..karena kami mengerti.” Mata mereka memberi jawaban.

Hari ini 15.00 WIB
Aku adalah emosi terkuat seorang wanita. Seperti harapnya, harap mereka. Tak kan kubiarkan satupun lelaku merejam. Aku yang akan menjajaki tiap sudut dunia dengan kata. aku yang akan mencecapi tiap keindahan dengan dosa. Retakan hati tak lagi berarti, lem-lem masa lalu melekatkan dengan kelat. Aku kuat. Paling tidak untuknya, untuk mereka.

Hari ini 19.00 WIB
Aku adalah kunang-kunang. Beterbangan menebar tawa untuk mereka yang terluka. Merasakan kegelapan dari setiap cerita, hingga hitam itu menemukan terang. Melupakan aku yang hanya mampu hidup beberapa waktu dan masuk ke dalam kelam abadi. Tak mengapa, asal mereka tak tersungkur karena gulita.

Hari ini 21.00 WIB
Aku adalah pecinta. Ku kalungi hati dengan rantai yang kuciptakan sendiri. Rantai transparan yang terbuat dari rasa takut kehilangan dan ketidakpercayaan. Senyumku akan tercipta untukmu. dalam bias kekosongan dan ledakan memori. Bayangan penistaan yang berkali memuntahkan lendirnya ke dalam kepala. Tidak, kamu tidak akan melihat itu. Aku adalah perempuan, yang mampu mengerti, tak tersakiti hanya untuk merasa dicintai.

Hari ini 23.59 WIB
Aku menjumpai tumpukan busa dengan lelah. Membasuh tiap pori. Ku luruskan garis senyum yang seharian kulengkungkan, pipiku pegal. Ku lepas butiran air mata yang seharian menggantung di sarang lebah. Ku rendam dalam air hangat mata yang selalu menolongku untuk bersembunyi.
“Istirahatlah, besok kamu akan bekerja lagi. Maaf jika terkadang aku memaksamu bersinar terlalu terang. Itu untuk kita teman. Agar hanya kita yang mengerti..” Dan mata itu terpejam. Rebah. menatap langit-langit tanpa membuka mata. tarikan nafas panjang mewakili resah. Detik jam berbunyi. tuk..tak..tuk..tak.., irama yang membuatku tahu bahwa waktu mengejarku. Kucari kotak kecil dimana dapat ku dengar suaranya, sebuah kotak yang akan kuputar dan memperdengarkan doa. Kulabuhkan diriku, tanpa apapun. Bersiap menceritakan tanpa suara sisi lain dari hari.
Namun malam ini, kotak itu merubah lagunya. Tak lagi ada doa. Tak lagi ada rima. Yang terdengar hanya suara detik jam yang berlari, dan dengkur halus. Selamat malam, selamat tidur, selamat menikmati hidupmu. Semoga hari ini akan membuatmu lebih kuat melangkah esok. Semoga hari ini akan membuatmu mengerti, keberadaan hanya sebuah eksistensi. dan ketiadaan adalah kehadiran yang sebenarnya. Selamat datang di dunia nyata.

5880_1200133245809_1302885252_570322_800814_n

Delapan

June 15, 2009

PERBINCANGAN HATI
“Tolong, jangan menghubungiku lagi..”
kata-kata terakhirnya bukan lagi tentang cinta atau kerinduan. Pengingkaran akan rasa terngiang menari di sela keremangan hati. Menguliti ketegaran yang kubangun untuknya..
aku seperti dipermainkan waktu dimana selalu aku yang tersudut jatuh.
“Tuhan, aku ingin bertanya..sekali ini jawablah dengan segera” pintaku dalam simpuhku.
“Bukankah manusia memang selalu bertanya?”

“.. Benar, aku ingin bertanya kenapa aku selalu ada dalam permainan ini.. takdirMu” tanyaku berlumur airmata.

“Karena kamu memandang dirimu sebagai pemain. Pemain yang pasrah dan menunggu keajaiban tanpa pernah mencoba menciptakan keajaiban itu sendiri.”


“Jika ini bukan permainan lalu apa? dan apa yang harus kulakukan dalam jalanmu? Harus terus menerus menyerah kalah pada rasa sakit dan menderita?” tanyaku mendesaknya.

Rasa sakit tidak bisa dihindari, tetapi penderitaan adalah sebuah pilihan.

kembali ia sirami aku dengan metafora yang tidak kumengerti.Emosiku tersulut. “Kapan aku boleh memilih? sementara jalanmu menghantamku bertubi-tubi. setiap huruf dalam ujarmu kulakukan, setiap detik dalam hidupku untuk selalu menjadi lebih baik. namun kenapa keadaan tidak berpihak kepadaku? kepada manusia lemah yang mencoba untuk hidup lebih baik?” teriakku.

Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan. Emas tidak dapat dimurnikan tanpa API. Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita. Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi lebih baik bukan sebaliknya.

“Aku sudah tidak butuh pengalaman lagi. aku tidak mampu  Tuhan, mengapa harus aku?.. sementara aku panjatkan puji puja disisi lain tikaman rasa itu membuat jiwaku  teriris terlalu dalam. tolong katakan saja padaku, sekali ini apa yang kan terjadi padaku..dalam takdirMu” aku makin memelas memohon jawabNya.

Ini menariknya manusia Jika menderita, mereka bertanya “Mengapa harus aku ?”. Jika mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya “Mengapa harus aku ?”. Meragukan setiap cerita yang terlewat dan telah tersirat.

“Bukan, bukan maksudku meragukanmu.. Aku bertanya karena aku percaya padaMu..sungguh” kataku bergetar.

Percaya adalah melangkah tanpa ragu. Perlahan ku berikan setiap pucuk daun dari doamu, jika kamu mengerti bagaimana cara untuk percaya tanpa mengeluh dan mensyukuri tiap peluh.


“aku tahu itu Tuhan. akupun merasakannya. saat kau mengirimnya hadir di hidupku, aku yakin Kau sudah menjawab doaku yang lalu tentang rinduku pada perempuan..aku sudah membangun mimpiku lagi, menjadikannya lebih indah dari kuasaku, tapi..semua kembali menjadi abu.

“Karena kamu melihatnya sebagai abu. sebagai sebuah kehancuran. bukan sebagai pembelajaran. Hadapilah masa lalumu tanpa penyesalan. Peganglah saat ini dengan keyakinan. Siapkan masa depan tanpa rasa takut.”

Selalu kau memintaku untuk melihat pembelajaran. Bukankah sedari ku tercetus di permukaan tanah ini aku sarat akan pembelajaran? lalu pembelajaran apa yang kudapat? merelakannya? sedangkan Kau tahu isi hatiku dan hatinya..katakan saja Tuhan apa yang harus aku lakukan..itu saja.”

“tidak ada siapapun yang tahu bagaimana hati orang lain. Lihatlah ke dalam. Melihat keluar, kamu bermimpi. Melihat kedalam, kamu terjaga. Mata memberimu penglihatan. Hati memberimu arah.”

Aku semakin tidak mengerti Tuhan. Bahkan tentang siapa aku dan engkau saat ini aku tidak tahu. Aku kehilangan diri. Tujuan hidupku terenggut pekat, dan kini ku lunglai meniti jalanmu  tanpa tujuan.

“Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu. Berhentilah mencari mengapa saya di sini. Ciptakan tujuan itu. Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.”

kata-katanya terakhir menghentak dadaku. selama ini aku berlari mencari arti, mencari untuk apa aku hadir. Padahal harusnya kusadari aku mempunyai wewenang untuk hidupku. untuk memilih bahagia atau menderita. perlahan debaran sakit dan hina itu meluruh.namun ketakutan panjang tentang kegagalan yang berjuta kali tusukan runcingnya ke dadaku menyeruak.

“Kegagalan di kepalamu adalah ketika kamu tidak bisa mendapatkan yang kamu inginkan. Selalulah melihat sudah berapa jauh kamu berjalan, daripada masih berapa jauh kamu harus berjalan. Selalu hitung yang harus kau syukuri, jangan hitung apa yang tidak kau peroleh. ” Tiba-tiba ia seakan bisa menjawab isi hatiku, melopongkan ketakutanku.

“Baiklah..aku mengerti. Terima kasih Tuhan.. Harusnya aku menyadari tidak ada kebahagiaan tanpa diawali dengan rasa sakit dan derita. Aku bersyukur melewati ini, karena ku tahu Kau memilihku untuk melalui ini…” kataku..

Aku berdiri. mencoba sunggingkan senyum walau sangat rapuh. Tuhanku tak pernah tidur. Ia ada dalam tiap detik dan menguatkanku. Aku terpilih untuk merasakan lebih bahagia.

1_284120545l

picture from google

untuk dia

May 31, 2009

us

Sabtu.

Sepertinya ia jenuh. memutuskan untuk kembali ke ke masa lalunya dan berkutat dengan angin yang menyemerbakan kisah silam. Ia berjanji akan kembali pulang. Setelah mampu meredam gundah yang bersarang dengan indah pada hatinya. bahkan tawaku pun tak mampu lelehkan. Hingga desing gasing kehidupan kembali bernyanyi, ia belum juga kembali. Salahku. harusnya tak meniadakan ketika ia berada tepat dipelukku, harusnya tak menghilangkan ketika ia tertawa meredam perihku, harusnya..harusnya..harusnya..ahh haruskah?

Ia pergi. ketika ku menyadari bahwa ia begitu berarti..

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.