Lima

June 13, 2009

TOKOH

Semalam aku melewati banyak cerita. Terbuka sudah alasan untuk marah dan menangis. alasan untuk pengertian dan kebahagiaan.

“mungkin begini, kamu adalah sebuah tokoh. Yang menarik untuk dijalin diputaran hidupnya. Tapi tokoh tetap tokoh. Coba lihat, banyak tulisan ia terakhir kali adalah tentangmu, memasukkan namamu, membelokan persepsi setiap orang yang membacanya. Memperlihatkan kepada setiap orang betapa indahnya dirimu dimatanya, dan kamu yang terus menerus menyakitinya. Mereka tak perlu tahu tentang gadis belia yang berada di sudut Jawa yang sudah harus menyandang gelar istri menunggunya. Mereka juga tak perlu tahu bahwa ia membuat kisah hampir di tiap kota yang ia temui. Mereka mengetahui hingga ke berapa lebarkah pinggangmu, namun tak pernah ada yang tahu siapa nama lengkap pria itu.” ucapan sahabat perempuanku ini membuatku ternganga.

Pikiranku melayang. mulai kembali merunut benang itu dari awal. Bagaimana ia datang kembali. Ia mengerti segala sesuatu yang disukai lawannya. Ia menyelusup di saat yang tepat, meninggalkan di saat yang tepat untuk datang lagi di ketepatan berikutnya. Seolah Tuhan sudah menyerahkan jabatannya. Berhak memainkan benang dimana ujung dari boneka itu adalah aku, aku dan aku.

“Dosa cuma ada padamu saudariku. Ia memutarkan semua cerita dan membuat setiap orang menghujatmu dan memujanya Dan tangisan mereka yang mendengar adalah doa untuknya. Tentang harapan agar kamu mendapatkan ganjaran karena telah menghancurkan hati pria yang sedemikian mencintaimu, Agar segala sesuatu yang positif dapat terjadi dalam hidupnya namun bukan hidupmu. Doa yang mereka lemparkan karena mereka menyayanginya.” Ucap sahabatku lagi.

Pengganti Tuhan itu pernah menjelaskan kepadaku bahwa ada dua macam penulis. pertama penulis penyaji kedua penulis yang sebenarnya. Penyaji adalah orang yang menuliskan apapun yang terjadi, Penulis adalah orang yang menciptakan sebuah tulisan dimana setiap orang yang membacanya seakan melihat kebenaran. Namun tidak akan ada sebuah tulisan jika tidak ada tokoh. baik itu fiksi maupun nonfiksi. Ia penulis yang menyajikan. Ia menceritakan apa yang dialaminya, menambahi dan mengurangi hingga ceritanya menggigit, mengharukan dan memancing emosi setiap orang yang membacanya. Dan aku, ia membutuhkanku untuk memainkan peran itu.
Terlahir indah sebagai manusia, berakhir menyedihkan sebagai sebuah tokoh.

Green Garden, 7 Juni 2009

isabelle4

surat tak terkirim

June 1, 2009

Crying_by_zero_rider

“memang kamu tidak pernah menginginkan aku bahagia
“loh, kenapa begitu? memangnya apa yang kulakukan? aku hanya menulis. saat ini aku sedang belajar menulis banyak hal. aku sedang belajar untuk membuat cerpen, dan yang paling mudah adalah menuliskan sesuatu yang aku rasakan. apakah itu salah?” jawabku.

memang…”
“bukan begitu Abdi, aku tidak seperti itu. mungkin katakan lah aku tidak selalu mampu bersembunyi dibalik tawa, tapi aku menyayangi kamu..mana mungkin aku tidak membiarkan kamu bahagia, walaupun bukan dengan hadirku disampingmu. tapi aku ingin kamu bahagia.  Dengan sedikit nyeri, tapi aku sangat ingin. ..apa itu yang ada di kepalamu selama ini?apa aku tidak pernah membahagiakanmu?” celotehku tanpa peduli ia mengetahui atau tidak.

memang kamu tidak pernah..
dadaku ditusuk belati seketika. ” Apapun aku mau lakukan untuk bahagiamu. hujan-hujanan kala terik walaupun aku tahu itu akan membuat ibuku memukulku, bercinta di setiap tempat yang dapat membiarkan kita berdua menepi walaupun aku tahu Tuhan mengintipku bahkan ke liang semut, berpura-pura tidak menangis dalam hancurku ketika dengan bangga kamu perlihatkan hak atas kekuasaan, dan nama yang dengan indah kupugar namun harus berakhir dengan nestapa. dan kamu bilang aku tidak pernah membuatmu bahagia? bahkan di tiap doaku hanya ada permintaan bagaimana aku melupakan sebuah tamparan. agar aku dapat melangkah maju, tak lagi mengingat kejadian pilu di dalam sebuah mobil tua itu.”

“memang kamu tidak pernah menginginkan aku“.
“No! kamu salah sayang, aku selalu menginginkan kamu. ditiap nafasku, tiap detak dan detik hidup, di tiap loncatan emosi. tapi aku belum bisa melupakan kisah itu. terlalu sakit untukku, terlalu sakit. tidakkah kamu mengerti? itu kenapa aku tidak ingin kamu disini, perutku masih berguncang hebat, pipiku masih panas, sangat!! dan kini, ketika kusiap untuk kembali..perempuan itu disana, di sampingmu.”

memang kamu tidak pernah menginginkan aku bahagia….” hanya itu ucapannya di selembar kertas yang ia tuliskan sebelum meninggalkan aku. aku berusaha mencari makna lain dari potongan kata-katanya, tapi itu membuat artinya semakin sempurna. surat itu menyampaikan banyak kisah. Dan hatiku, tidak mampu berteriak lebih keras dari angin yang mengiringi langkahnya  untuk memberi tahu apa yang kurasa. suara jiwaku melantun dengan deras di dalam kubangan yang tertutup semen dan bergaung di seluruh dunia, namun di bawah tanah. dan ia tetap tidak mendengar.

satu

May 29, 2009

29767
27 Mei 2009

Malam

Dear diary tak tertulis..

Suaranya menyiratkan kepedihan. luka mendalam dan sebuah harapan. Bukan inginnya hanya menohokkan rasa dan menyerah kalah. bukan juga mauku menafikan hati dengan polemik yang tak pernah usai. kembali mata yang berbicara. tentang nista dan resah. tentang amarah dan putus asa. harus berlarikah? mengejar impian seperti semua pintamu. meninggalkan satu mimpi dimana ada kau dan aku disana. Harus berdiam kah? menunggu Tuhan mengasihani dan mengijinkan kusetubuhi malaikatnya agar semua norma terhapus dan semua aturan terlepas. menemalikan jiwa, agar benang merahku menggulung menjadi bola yang jauh lebih bermakna daripada sebuah pola.

Ku sayang dia..
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.