empat
June 3, 2009
Melangkah
Sore.
Aku menjelang kepergiannya meraih hidup. menitipkan kembali mimpi di tiap ruas jarinya. membiarkan ia memegangnya dengan tepat, tak terlepas namun juga tidak terlalu erat. Angka tentang waktu berputar melaju. mundur dan kemudian maju.
“Bagaimana dengan hilangnya kamu… sementara tiap hari dapat kuendus aromamu lalu kini harus mengayun ke tengah bumi dan bersatu dengan pasir yang terhampar? “
“aku pergi untuk mengumpulkan lagi pasir-pasir itu. meletakkan di dalam sebuah pantai yang kubuat khusus untukmu. ditanami dengan tanaman yang berisi genggaman hangat dan kepercayaan agar senantiasa teduh. Dan kuhiasi dengan langit biru merona ungu, dimana dapat kamu lihat cinta yang dewasa, cinta yang tidak lagi menuntut, menurut, melainkan cinta yang dapat terbang namun selalu mengerti kapan dan dimana harus pulang.”
“Berhenti berandai-andai. aku tidak tertarik dengan semua kata indah itu. hanya kamu tetap disini..hanya itu!”
“Perempuan, kulajukan langkah ini semata untuk berjalan mendekatimu. jika tapak telah tak terlihat, jangan kemudian menangis. Mendongaklah..telah kutitipkan juga jejak kaki itu untuk menyapamu di langit. lengkap dengan sebuah venus bernama Ollista yang menunggu hadir kita.. Berjalanlah untukku, karena itu yang sedang kulakukan untukmu. ayo tapaki tiap anak tangga diruang yang berbeda, namun yakini..pintu yang kita tuju adalah pintu yang sama.”
Aku menangis tergugu kaku. aku akan berjalan, dengan semua harapan..menunggumu di pintu itu. cepat pulang sayang, aku akan rindu.

http://www.readybb.com/boyzforum/users/31346/malioboro-pojok.jpg